Sebuah perjalanan ke Pulau Bungin mempertemukan kita dengan kehidupan masyarakat Bajo, sejarah yang diwariskan melalui ingatan keluarga, serta pelajaran tentang pendidikan dan pentingnya kekuatan lokal dalam menjaga keberlanjutan sebuah komunitas.

Perjalanan itu dimulai dengan sepeda motor tua yang masih setia menemani perjalanan.

Hampir dua jam jalanan Sumbawa membawa saya melewati tikungan, tebing kapur, dan bentangan laut biru. Dari satu jalan kecil ke jalan lainnya, perjalanan akhirnya membawa saya ke sebuah kampung pesisir yang memiliki cerita berbeda: Pulau Bungin.

Pulau ini bukan sekadar pulau yang dihuni manusia.

Ia adalah ruang hidup yang dibentuk dan diperluas sedikit demi sedikit oleh tangan manusia. Rumah-rumah berdiri rapat. Sebagian masih menggunakan kayu dan seng dengan bentuk panggung, sementara sebagian lainnya mulai menggunakan semen dan beton.

Di antara rumah-rumah tersebut, kehidupan berlangsung dalam jarak yang sangat dekat dengan laut.

Pulau Bungin berada di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat setempat, sejarah permukiman ini berkaitan dengan Palema Mayu atau Panglima Mayu, yang disebut sebagai salah satu dari enam anak raja Selayar. Masyarakat awal Pulau Bungin berasal dari komunitas Bajo yang bermigrasi dari Sulawesi Selatan.

Jejak sejarah tersebut hingga kini masih hidup dalam ingatan keluarga dan masyarakat.

Salah satu nama yang muncul dalam cerita itu adalah Uwak Makadiah, yang dikenal sebagai keturunan kelima Panglima Mayu. Cerita tentang leluhur tersebut kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya, termasuk Uwak Arif, putranya, yang disebut sebagai keturunan keenam.

Dari cerita keluarga inilah sejarah Pulau Bungin tidak hanya hadir sebagai masa lalu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hari ini.

Pemerintah Desa Pulau Bungin sendiri menempatkan kehidupan maritim dan kearifan lokal sebagai bagian penting dari arah pembangunan desa. Pengembangan wisata bahari yang terintegrasi dengan kuliner hasil laut menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk mendorong perekonomian masyarakat.

Namun, program dan visi desa hanyalah satu bagian dari cerita.

Cerita yang lain baru terasa ketika kita berjalan di antara rumah-rumah, bertemu warga, dan melihat bagaimana kehidupan berlangsung dari dekat.

Hidup yang Dekat dengan Laut

Laut bukan sekadar bentang alam bagi masyarakat Pulau Bungin. Ia merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Hasil laut menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Sebagian warga bekerja sebagai nelayan, sementara yang lain menjalani profesi sebagai pedagang maupun pegawai pemerintahan.

Ruang hidup yang terbatas membuat hubungan sosial terasa dekat. Orang-orang saling mengenal. Anak-anak bermain di sekitar rumah dan laut. Aktivitas rumah tangga, pekerjaan, dan kehidupan sosial berlangsung dalam ruang yang berdekatan.

Namun, kedekatan dengan masyarakat juga menghadirkan sejumlah pertanyaan.

Bagaimana pendidikan anak-anak di pulau ini?

Bagaimana masyarakat memperoleh layanan kesehatan?

Dan bagaimana lingkungan dijaga ketika hampir seluruh kehidupan berlangsung begitu dekat dengan laut?

Pertanyaan tersebut muncul dari apa yang saya temui selama berada di sana. Saya melihat anak-anak bermain pada jam sekolah, menjumpai warga yang menghadapi persoalan kesehatan, dan menemukan sampah di beberapa bagian permukiman.

Pada awalnya saya berpikir bahwa persoalannya mungkin terletak pada keterbatasan fasilitas.

Ternyata persoalannya lebih kompleks.

Ketika Fasilitas Sudah Ada

Pulau Bungin bukanlah komunitas yang sama sekali tidak memiliki fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Pendidikan dari jenjang usia dini hingga sekolah menengah tersedia. Fasilitas kesehatan juga berada di tengah desa.

Dari situ muncul pertanyaan yang menurut saya justru lebih penting:

Sejauh mana fasilitas yang sudah tersedia benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat?

Pertanyaan tersebut kemudian membawa saya pada sebuah gagasan sederhana: pendidikan.

Bukan datang dengan membawa banyak hal dari luar, melainkan mencoba membuka sebuah ruang kecil bagi anak-anak untuk membaca, belajar, dan menemukan pengalaman baru melalui buku.

Gagasan tersebut mendapat sambutan dari pemerintah desa. Salah satu sekolah dasar juga mendukung agar anak-anak dapat datang ke sebuah pos baca yang kemudian ditempatkan di Museum Desa.

Pada 2024, dengan dukungan pemerintah desa, sekolah, masyarakat, dan Perpustakaan Dila Samawa Kabupaten Sumbawa, pos baca tersebut mulai dibuka.

Buku-buku disediakan untuk anak-anak maupun masyarakat umum. Kegiatan membaca dan storytelling juga dilakukan secara berkala.

Setiap minggu, selama memungkinkan, saya berusaha hadir untuk membaca dan belajar bersama anak-anak.

Ada kegembiraan sederhana ketika melihat seorang anak membuka buku, membaca, kemudian menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ia kenal.

Tetapi dari sana saya juga belajar bahwa sebuah gagasan yang baik belum tentu otomatis dapat bertahan.

Ketika Sebuah Gagasan Harus Berhenti

Beberapa waktu kemudian saya mulai kesulitan menjalankan kegiatan seorang diri.

Tidak ada rekan kerja maupun orang lokal yang dapat secara rutin melanjutkan pendampingan anak-anak. Jarak juga menjadi persoalan.

Saya harus melakukan perjalanan dari Lombok menuju Pulau Sumbawa agar kegiatan tetap berjalan.

Pada akhirnya, pos baca tersebut harus ditutup.

Ada kesedihan ketika sebuah usaha yang dibangun dengan harapan tidak dapat berjalan seperti yang direncanakan.

Namun, pengalaman tersebut justru memberikan pelajaran penting.

Keberlanjutan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh gagasan, tetapi juga oleh kemampuan komunitas untuk mengambil alih dan meneruskannya.

Dari pengalaman di Pulau Bungin, saya mulai memahami bahwa memberdayakan sumber daya lokal sering kali lebih penting daripada sekadar membawa sumber daya dari luar.

Sebuah komunitas tidak hanya membutuhkan orang luar yang datang membawa program. Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk menemukan orang-orang dari dalam komunitas sendiri yang bersedia mengambil bagian, belajar, dan meneruskan apa yang telah dimulai.

Barangkali di situlah salah satu tantangan terbesar dalam setiap upaya pemberdayaan masyarakat: bagaimana sebuah program tidak berhenti ketika orang yang memulainya harus pergi.

Pulang dengan Cara Pandang yang Berbeda

Pada awal 2025, saya kembali ke Lombok.

Perjalanan itu mengajarkan saya tentang menunggu, kesabaran, dan menikmati proses. Saya mulai memahami bahwa sebuah perjalanan tidak selalu harus menghasilkan sesuatu yang besar.

Kadang-kadang perjalanan hanya perlu mempertemukan kita dengan manusia.

Dengan cerita.

Dengan sejarah.

Dengan kebudayaan yang sebelumnya tidak kita kenal.

Dari perjalanan tersebut, ketertarikan saya kepada masyarakat Bajo semakin tumbuh. Mereka adalah bagian dari masyarakat maritim Nusantara yang kehidupannya tersebar di berbagai wilayah kepulauan dan memiliki hubungan erat dengan laut.

Pulau Bungin akhirnya bukan hanya menjadi sebuah tempat yang pernah saya kunjungi.

Ia menjadi ruang belajar.

Tentang laut.

Tentang manusia.

Tentang kebudayaan.

Dan tentang bagaimana sebuah masyarakat membangun kehidupan dari apa yang mereka miliki.

Di tempat itu, saya juga semakin memahami bahwa sejarah tidak selalu tersimpan dalam buku.

Ia dapat hidup dalam ingatan seseorang.

Dalam cerita seorang tua kepada anaknya.

Dalam sebuah benda yang diwariskan.

Dalam nama leluhur yang terus disebut.

Dalam cara sebuah masyarakat memandang laut dan tempat tinggalnya.

Di Pulau Bungin, sebagian ingatan tersebut masih hidup melalui cerita tentang Panglima Mayu dan keturunannya.

Namun Pulau Bungin bukan hanya tentang masa lalu.

Ia juga berbicara tentang masa kini dan masa depan: tentang pendidikan anak-anak, kesehatan, lingkungan, ekonomi masyarakat, serta bagaimana kebudayaan dapat terus hidup di tengah perubahan.

Pulau ini sendiri menjadi gambaran menarik tentang hubungan manusia dengan ruang hidupnya. Daratan yang terbatas diperluas sedikit demi sedikit dengan material dari laut. Rumah-rumah tumbuh mengikuti kebutuhan keluarga. Kehidupan sosial berkembang dalam ruang yang rapat.

Semuanya menunjukkan satu hal: manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan membangun kehidupan dari apa yang tersedia di sekelilingnya.

Pada akhirnya, perjalanan ke Pulau Bungin tidak membuat saya pulang dengan jawaban atas semua pertanyaan.

Sebaliknya, saya pulang membawa pertanyaan-pertanyaan baru.

Bagaimana pendidikan dapat tumbuh dari dalam sebuah komunitas?

Bagaimana kebudayaan bertahan ketika zaman berubah?

Bagaimana masyarakat pesisir menjaga lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan mereka?

Dan, yang paling penting, bagaimana orang luar seharusnya hadir ketika ingin bekerja bersama sebuah komunitas?

Mungkin di situlah makna sebuah perjalanan budaya.

Bukan sekadar datang, melihat, lalu pulang membawa cerita.

Tetapi datang dengan kesediaan untuk mendengar.

Untuk belajar.

Dan untuk menyadari bahwa sebuah tempat selalu memiliki cerita yang jauh lebih panjang daripada apa yang pertama kali terlihat oleh mata.

Di Pulau Bungin, cerita itu tumbuh dari laut.

Dan dari karang yang sedikit demi sedikit menjadi tempat manusia membangun rumah, keluarga, sejarah, dan kehidupan.